Asal Usul Bumi Dan Manusia Menurut Agama Buddha Oleh Corneles Wowor, M.A

Vasettha,
terdapat suatu saat, cepat atau lambat, setelah suatu masa yang lama
sekali, ketika dunia ini hancur. Dan ketika hal ini terjadi, umumnya
mahluk-mahluk terlahir kembali di Abhassara (alam cahaya); di sana
mereka hidup dari ciptaan batin (mano maya), diliputi kegiuran, memiliki
tubuh yang bercahaya, melayang-layang di angkasa, hidup dalam
kemegahan. Mereka hidup demikian dalam masa yang lama sekali.
Pada
waktu itu (bumi kita ini) semuanya terdiri dari air, gelap gulita.
Tidak ada matahari atau bulan yang nampak, tidak ada bintang-bintang
maupun konstelasi-konstelasi yang kelihatan; siang maupun malam belum
ada, ..... laki-laki maupun wanita belum ada. Mahluk-mahluk hanya
dikenal sebagai mahluk-mahluk saja.
Vasettha, cepat atau lambat
setelah suatu masa yang lama sekali bagi mahluk-mahluk tersebut, tanah
dengan sarinya muncul keluar dari dalam air. Sama seperti bentuk-bentuk
buih (busa) di permukaan nasi susu masak yang mendingin, demikianlah
munculnya tanah itu. Tanah itu memiliki warna, bau dan rasa. Sama
seperti dadi susu atau mentega murni, demikianlah warna tanah itu; sama
seperti madu tawon murni, demikianlah manis tanah itu. Kemudian
Vasettha, di antara mahluk-mahluk yang memiliki sifat serakah
(lolajatiko) berkata : 'O apakah ini? Dan mencicipi sari tanah itu
dengan jarinya. Dengan mencicipinya, maka ia diliputi oleh sari itu, dan
nafsu keinginan masuk dalam dirinya. Mahluk-mahluk lainnya mengikuti
contoh perbuatannya, mencicipi sari tanah itu dengan jari-jari .....
mahluk-mahluk itu mulai makan sari tanah, memecahkan gumpalan-gumpalan
sari tanah tersebut dengan tangan mereka. Dan dengan melakukan hal ini,
cahaya tubuh mahluk-mahluk itu lenyap. Dengan lenyapnya cahaya tubuh
mereka, maka matahari, bulan, bintang-bintang dan konstelasi-konstelasi
nampak ..... siang dan malam ..... terjadi.
Demikianlah, Vasettha, sejauh itu bumi terbentuk kembali.
Vasettha,
selanjutnya mahluk-mahluk itu menikmati sari tanah, memakannya, hidup
dengannya, dan berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali.
Berdasarkan atas takaran yang mereka makan itu, maka tubuh mereka
menjadi padat, dan terwujudlah berbagai macam bentuk tubuh. Sebagian
mahluk memiliki bentuk tubuh yang indah dan sebagian mahluk memiliki
tubuh yang buruk. Dan karena keadaan ini, mereka yang memiliki bentuk
tubuh yang indah memandang rendah mereka yang memiliki bentuk tubuh yang
buruk ..... maka sari tanah itupun lenyap ..... ketika sari tanah
lenyap ..... muncullah tumbuhan dari tanah (bhumipappatiko). Cara
tumbuhnya seperti cendawan ..... Mereka menikmati, mendapatkan makanan,
hidup dengan tumbuhan yang muncul dari tanah tersebut, dan hal ini
berlangsung demikian dalam masa yang lama sekali ..... (seperti di
atas). Sementara mereka bangga akan keindahan diri mereka, mereka
menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan yang muncul dari tanah itu
pun lenyap. Selanjutnya tumbuhan menjalar (badalata) muncul .....
warnanya seperti dadi susu atau mentega murni, manisnya seperti madu
tawon murni .....
Mereka menikmati, mendapatkan makanan dan hidup
dengan tumbuhan menjalar itu ..... maka tubuh mereka menjadi lebih
padat; dan perbedaan bentuk tubuh mereka nampak lebih jelas; sebagian
nampak indah dan sebagian nampak buruk. Dan karena keadaan ini, maka
mereka yang memiliki bentuk tubuh indah memandang rendah mereka yang
memiliki bentuk tubuh buruk ..... Sementara mereka bangga akan keindahan
tubuh mereka sehingga menjadi sombong dan congkak, maka tumbuhan
menjalar itu pun lenyap.
Kemudian, Vasettha, ketika tumbuhan
menjalar lenyap ..... muncullah tumbuhan padi (sali) yang masak di alam
terbuka, tanpa dedak dan sekam, harum, dengan bulir-bulir yang bersih.
Pada sore hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan malam,
pada keesokkan paginya padi itu telah tumbuh dan masak kembali. Bila
pada pagi hari mereka mengumpulkan dan membawanya untuk makan siang,
maka pada sore hari padi tersebut telah tumbuh dan masak kembali,
demikian terus menerus padi itu muncul.
Vasettha, selanjutnya
mahluk-mahluk itu menikmati padi (masak) dari alam terbuka, mendapatkan
makanan dan hidup dengan tumbuhan padi tersebut, dan hal ini berlangsung
demikian dalam masa yang lama sekali. Berdasarkan atas takaran yang
mereka nikmati dan makan itu, maka tubuh mereka tumbuh lebih padat, dan
perbedaan bentuk mereka nampak lebih jelas. Bagi wanita nampak jelas
kewanitaannya (itthilinga) dan bagi laki-laki nampak jelas
kelaki-lakiannya (purisalinga). Kemudian wanita sangat memperhatikan
tentang keadaan laki-laki, dan laki-laki pun sangat memperhatikan
keadaan wanita. Karena mereka saling memperhatikan keadaan diri satu
sama lain terlalu banyak, maka timbullah nafsu indriya yang membakar
tubuh mereka. Dan sebagai akibat adanya nafsu indriya tersebut, mereka
melakukan hubungan kelamin.
Vasettha, ketika mahluk-mahluk lain melihat mereka melakukan hubungan kelamin .........
[ Dikutip dari Website Samaggi-Phala
WWW.Samagghi-Phala.or.id ]
(Dikutip dari http://sejarahini.blogspot.com/2013/06/asal-usul-bumi-dan-manusia-menurut.html)